Home Puisi RASUNA ON THE WAY
RASUNA ON THE WAY
Written by Tanti, on 14-03-2008 11:20
Editor's rating
Average user rating
(0 vote)
Views
1633
I.
Catatan pagi Kopaja tua :
Sial, hari ini benalu-benalu berjubelan!
Melirik spion dibalik kaca kepada kursi-kursi yang bergidik berdiam…
Aku merasa jijik, kata kursi sebelah supir
Awas, hati-hati, mereka akan memakan makanan kita pagi ini
Sahut lalu pintu-pintu besi…
II.
Belokan kiri, Mampang terbelakangi
Sekejap seluruh dunia bertumpuk dalam satu jalur
India, Malaysia, Singapore, Switzerland…
Berlomba-lomba isi ibu kota…
Beberapa berdasi turun dari taksi
Yang lainnya berlomba melalui jalur jalan sebelah kanan
Perempuan emansipasi dengan rok mini,
santai saja berdiri diantara benalu-benalu Kopaja
Tak sadar rupanya…
Ia turun di shelter dekat Menara Kadin
Lantas lenyap isi tas jinjingnya
Sudah terlambat, Nona…
III.
Angin mati bertiup sendiri, mencoba menyapa para Polisi
Casablanca yang tak pernah sunyi…
Shelter Trans Jakarta di depan Pasar Festifal…
Lihat padaku!, katanya pada atap segitiga…
Bukankah aku tersibuk pagi ini ?
Tuan, Nyonya dan anak muda, tak terhitung jumlah langkah mereka
Keuntungan tirani Pemda kita
Lampu-lampu tiang yang sudah padam pada kursi taman Epicentrum
Bersekongkol …
Kau jangan terlalu bangga, sinisnya menusuk rangka putih itu…
Tanpa gemerlapku yang bergoyang indah di malam hari,
Kau hanyalah sebuah bongkahan mati menjelang dini hari
Kau ada karena keramaian,
Keramaian ada karena kami, atap MMC berucap seraya
IV.
Bertiup lagi angin kering melalui dahan-dahan pohon akasia
Membawa kabar kepada Setia Budi Plaza
Ssst…, bisik mesin pembuat karcis di muka depan Starbuck Coffee yang
masih sepi
Jangan kacaukan hariku, aku sedang menghitung karcis masuk parkir yang
berserakan
V.
Mawar-mawar mekar sehabis hujan sore kemarin
Berpendar warna dengan bunga-bunga pisangan yang oranye
Hadiah langit bagi tukang kebun yang telah bekerja giat dan gesit
Kata matahari di balik Mega Plaza :
Aku sudah cukup tidur sedari pagi buta, biar aku yang berjaga pagi ini
Berkata awan pucat menyahuti, :
Iya, kami sudah lelah, perut kami sudah mulai lemas
Mengeluarkan seluruhnya yang kami panggul kemarin
Matahari tersenyum melirik Hotel Gran Melia
Iya, aku tahu…
Aku bisa lihat usahamu melubangi kota ini
Sisa-sisa buanganmu masih terlihat kecoklatan dari atas sini
VI.
Saudara,
Ini bukan balada Beos yang tua
Atau pula Menteng yang lama
Rasuna megah meraja
Bertiang-tiang lampu kota dalam pelangi warna
Imperium yang tinggi boleh mencakar langit kami
Sepertinya, memang untuk itu kami berdiri
Meski harus berporak poranda dan lantas kami bangun kembali
Di sini, kami yakin sendiri…
Seperti mawar yang kami tanam lalu berbunga
Seperti papan reklame yang kami pancang lalu berbicara
Seperti mimpi dan harapan yang tak akan pernah sirna
Rasuna…
Pencarian harta selatan Jakarta.
Last update: 14-03-2008 11:20
Users' Comments (0)
Quote of the Day
Quote of the Day
There are two ways of spreading light: to be the candle or the mirror that reflects it.
Edith Wharton (1862-1937)
Petikan Puisi
"...;di negeriku lelaki tak patut menitikkan air mata;aku pun pergi ke negeri puisi;di mana kegembiraan dan kesedihan keraguan dan cinta tak ditampik atau menampik " - Toto St Radik