TEMPO Interaktif, Jakarta:Pramoedya Ananta Toer duduk sambil meletakan tangannya diatas tongkat yang ia bawa. Sesekali dia tersenyum saat menatap ketiga majelis hakim yang sedang memimpin sidang. Budayawan ini memang sengaja datang ke sidang gugatan class action mantan narapidana dan tahanan politik korban pembantaian tahun 1965, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (13/4).
40 tahun luka itu terjelma dalam ratusan, mungkin ribuan karya sastra
Serupa protes Antonio Gramsci terhadap rezim Mussolini Italia, Serupa metafora Pablo Neruda dalam kumpulan puisi "Nyanyian Revolusi" untuk Fidel Atau novel Pramoedya Ananta Toer terhadap Soeharto.
"Walau sejarah belum tentu (dan tak perlu) menghadirkan para penulis buku ini menjadi tokoh di dalam perjalanan waktu. Sebuah catatan atas luka akan selalu ada…"
"...;di negeriku lelaki tak patut menitikkan air mata;aku pun pergi ke negeri puisi;di mana kegembiraan dan kesedihan keraguan dan cinta tak ditampik atau menampik " - Toto St Radik